BUDAYA: KOMODITAS DAN PARIWISATA STUDI KASUS MENJAGA BUDAYA PADA BIAYA YANG LUAR BIASA DI TANA TORAJA SULAWESI
Pariwisata
secara umum menurut wikipedia adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk
rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas
tersebut. Sedangkan
pengertian pariwisata menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan adalah berbagai macam kegiatan
wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh
masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Kegiatan
pariwisata
juga menawarkan seperti tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, pengalaman
baru dan kegiatan lainnya. Banyak negara yang ekonominya bergantung banyak dari
sektor industri pariwisata. Sebagai salah satu dari sekian banyak sumber pajak
dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan yang
berkunjung. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah
salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk
mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan
perekonomian melalui berbagai penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal.
Perlu kita ketahui pengertian Budaya secara umum adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Para perumus perubahan UUD 1945 menyadari peran penting kebudayaan dalam pembentukan jati diri masyarakat dan bangsa Indonesia pada khususnya, serta bagi modernitas dan kemajuan bangsa pada umumnya. Pengembangan budaya Indonesia adalah tanggung jawab Negara, bukan hanya Pemerintah tetapi juga masyarakat. Amandemen juga menggaris-bawahi bahwa identitas bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika harus dihayati. Persatuan (Tunggal) akan selalu ada bersama dengan kemajemukan (Bhinneka). Kebudayaan memberi bentuk kepada sikap hidup, sikap mental warga, dan pola hidup masyarakat. Sebaliknya, sikap dan pola hidup itu juga memberi bentuk kepada kebudayaan. Kebudayaan itu dipelajari dan kebudayaan itu beradaptasi serta berkembang. Karena budaya itu berkembang, dipelajari, beradaptasi, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor, maka diperlukan upaya sadar agar kebudayaan Indonesia berkembang ke arah yang baik.
Selanjutnya pengertian komoditas secara umum adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.
Kesenjangan adat istiadat tradisional muda versus tua di Tana Toraja Indonesia
Masyarakat
Toraja di Sulawesi Tengah, Indonesia, telah lama dikenal atas kemewahan
perayaan mereka akan kematian di pemakaman, kuburan, dan patung-patung. Tak
jauh di luar Rantepao, ibukota daerah Tana Toraja, pemakaman yang mahal dan
penuh pertunjukan kerap dilakukan. Namun secara meningkat, ritual seperti ini
memecah generasi. Seperti di kebudayaan asli lainnya di dunia, keretakan yang
tumbuh di antara yang tua dan yang muda mempertanyakan dasar tradisi mereka.
Masyarakat Toraja, atau
masyarakat dataran tinggi, telah menjaga warisan kebudayaan sebelum dikenalkannya
Kristiani melalui misionaris di tahun 1600. Selama berabad-abad, masyarakat
Toraja telah memperlakukan kematian dengan perayaan besar, melalui ritual yang
dramatis dan pemakaman yang rumit. Masyarakat Toraja memakamkan yang meninggal
dengan berbagai cara yang impresif dan tidak biasa: di batu, muka batu kapur,
kuburan menggantung, gua, dan pohon. RUang-ruangnya dipahat dengan tangan di
batuan, sebuah proses yang memakan waktu hingga satu tahun untuk diselesaikan
dan biasanya mahal. Tanda kuburan bervariasi dari pintu kayu sederhana hingga
tau tau yang penuh hiasan, atau patung kayu yang dipahat. Bayi dikuburkan di
rongga-rongga pohon dan mayat mereka terserap oleh kulit kayu yang hidup.
![]() |
| Rumah Tongkonan Tana Toraja |
Sementara menjaga
tradisi budaya ini penting bagi masyarakat Toraja, biaya pemakaman biasa mereka
sangat besar. Di tengah jantung pertikaian antara yang muda dan yang tua dari
Toraja, terdapat masalah ekonomi pemakaman. Praktek pemakaman begitu mewah dan
mahal hingga banyak keluarga yang terjerat hutang untuk pembayaran perayaan
pemakaman dari orang yang mereka cintai. Hutang ini dibawa melalui generasi,
sehingga anak-anak mereka pun sering kali lahir dengan hutang berkaitan dengan
pemakaman orang yang belum pernah mereka kenal dan harus menghabiskan seluruh
hidup mereka berusaha untuk membayar. Pemakaman mengembangbiakkan kemiskinan,
namun kepentingan sosialnya begitu tinggi sehingga keluarga akan menyerahkan
apapun dari rumah hingga peralatan pertanian dan pendidikan yang lebih tinggi
untuk anak-anak mereka – semua untuk membayar biaya pemakaman yang merisaukan
tapi sesuai.
Apa yang membuat
pemakaman ini begitu mahal, sebagian besar adalah karena penyembelihan hewan
dan pesta selanjutnya yang merupakan bagian tak terpisahkan dari acara yang
tepat. Jumlah kerbau air yang disembelih untuk perayaan pemakaman secara
langsung proporsional dengan kekayaan keluarga yang ditinggalkan. Pada
pemakaman di tahun 2004, permintaan keluarga untuk menyembelih lebih dari 50
kerbau air ditolak oleh pemerintah lokal berdasarkan alasan karena hampir
keseluruhan populasi kerbau air harus dibunuh, dan masyarakat tidak akan dapat
menggantikan stok secepat itu. Keluarga kaya tersebut berkompromi dengan hanya 30
kerbau dan babi yang hampir dua kali banyaknya. Sebagai usaha untuk
menghentikan praktek penyembelihan kerbau yang terlalu banyak, pemerintah
Indonesia telah menerapkan pajak pada setiap hewan yang dibunuh dan
mensyaratkan bahwa satu kerbau diberikan masing-masing kepada pemungut pajak
dan gereja setempat. Dengan kerbau yang satu ekornya mencapai harga USD 400,
pajak membuat praktek ini semakin sulit dilakukan; bagaimanapun, penyembelihan
terus berlangsung. Tanduk dari kerbau yang disembelih di pemakaman ditumpuk di
rumah-rumah perayaan sebagai pengingat pada peristiwa dan penegasan akan
kekayaan dan status keluarga tersebut.
Pemakaman tidak hanya
merupakan acara bagi keluarga dan masyarakat, namun juga untuk turis. Semua
pemakaman di Tana Toraja harus didaftarkan di pemerintah lokal dan kemudian di
departemen pariwisata, sehingga petunjuk wisata tetap mengetahui perayaan
pemakaman yang mungkin bisa dilihat turis ketika mereka berkunjung. Dengan cara
ini, pemakaman memberikan pendapatan bagi masyarakat lokal, bahkan ketika
mereka terus memiskinkan keluarga penyelenggara setempat. Saat turis
mengunjungi acara ini, biasanya mereka membawa donasi, hampir selalu sekarton
rokok yang tidak akan membantu apa pun bagi keluarga ataupun membantu menutup
pengeluaran luar biasa mereka.
Jauh di balik kesulitan
keuangan ini, biaya yang ditanggung lingkungan dari pemakaman ini bukannya
tidak signifikan, bila sangat diregionalisasikan. Sementara bambu yang bisa
diperbaharui semakin banyak digunakan untuk struktur perumahan sementara,
ancaman kayu kuat tropis dari hutan Sulawesi yang hilang dengan cepat digunakan
untuk tau tau dan struktur perayaan sementara. Patung bertahan, namun dipercaya
penggunaan platform dan rumah yang didirikan untuk pemakaman sebelumnya membawa
sial, sehingga ini merupakan pemborosan yang signifikan. Kekurangan kayu keras
berarti kayu bahkan diselundupkan dari pulau-pulau tetangganya, terutama Borneo, semakin memperparah tingkat penggundulan
hutan Indonesia teramat parah.
Konflik
umum dari masyarakat Toraja di Sulawesi adalah bagian dari tren yang lebih luas
di mana tradisi yang dulunya dipandang sebagai bagian penting dari budaya
masyarakat, kini dilihat dengan hina dan muak oleh generasi muda karena
kesulitan yang diakibatkan di daerah-daerah dari Makassar hingga Madagaskar.
Sementara Barat dan tetua suku menyesali hilangnya kebudayaan dan bahasa — PBB
memperkirakan satu bahasa hilang rata-rata setiap dua minggu — kadang kala ada
kekuatan yang lebih rumit yang menyebabkan transisi tersebut.
Walaupun demikian perlu kita ketahui bawha upacara adat
yang memerlukan biaya yang sangat mahal itu menjadi sebuah daya tarik wisata
yang sangat luar biasa. Masyarakat lokal, domestik bahkan mancanegara datang ke
destinasi Tana Toraja untuk menyaksikan pemakan tersebut. Tidak hanya pemakaman
melainkan daya tarik wisata lainnya. Tana Toraja menjadi tempat wisata terbaik
yang ada di Sulawesi Sealatan. Hal ini juga menjadi potensi sebagai sumber perekonomian
bagi rakyat Indonesia. Banyak investor yang berdatangan untuk berdagang dan
mengembangkan daya tarik wisata yang ada di Tana Toraja.
“Pemerintah dan turis menginginkan kami untuk melanjutkan tradisi keluarga, namun kadang kala biayanya terlalu tinggi,” ujar Pahral, warga desa di dekat Lembo, menggunakan pengalih bahasa. “Kami perlu lebih berpikir mengenai pendidikan dan beban di anak-anak kami, dan memberikan lebih sedikit bagi nenek moyang kami.”
![]() |
| Patung orang yang mati dipahat di Lemo. |
![]() |
| Rumah tradisional Tana Toraja |
![]() |
| Patung yang dipahat menyerupai orang yang telah meninggal di Lemo |
![]() |
| Kuburan di Lemo Tana Toraja |
Daftar Pustaka :
https://travel.kompas.com/read/2015/03/31/193800427/Rambu.Solo.Tradisi.Pemakaman.Unik.di.Tana.Toraja





Thanks gan infonya bermanfaat
BalasHapusMakasih infonya
BalasHapus